Senin, 02 Desember 2019

Sholat Bahagia Demi Ridhonya.

Pelatihan Sholat Bahagia Demi Ridho-Nya

Pada tanggal 23 bulan November tahun 2019, di kota Surabaya tepatnya Jl. Siwalankerto Tengah 66 Surabaya, diikuti oleh  sebagian Mahasiswa/mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya diantaranya Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, Ilmu Komunikasi, Manajemen Dakwah, Bimbingan Konseling Islam, Pengembangan Masyarakat Islam. Dengan judul Pendalaman Terapi Sholat Bahagia tersebut merupakan tema dari acara yang di adakan oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku founder dari buku Terapi Sholat Bahagia, beliau tidak hanya sekedar founder dari buku tersebut dan juga dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, beliau juga seorang imam sholat teraweh di Afrika, Asia, dan Eropa dan juga seorang penulis buku yang beberapa karyanya telah diterbitkan di dunia internasional yang sudah dikenal oleh banyak orang . Acara ini di moderatori oleh Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I selaku asisten dosen prof. Ali Aziz. Ketika menghadapi atau mendapati sebuah masalah maka kita dianjurkan melakukan sholat, karena dengan sholat masalah apa pun dapat teratasi dan terselesaikan. Suplemen buku Terapi Sholat Bahagia ini ditulis oleh Prof. Ali Aziz setelah lebih dari dua puluh kali dilaksanakannya PTSB, baik di dalam maupun di luar negeri.
Shalat yang dilakukan dengan benar dan ikhlas, akan membuat hati bahagia, jiwa damai, dan menghilangkah kegelisahan hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh dalam mengerjakan shalat baik dalam keadaan lapang, maupun saat terhimpit suatu masalah.
Dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Bila kedatangan masalah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad dalam al–Musnad [5/388] dan Abu Dawud [2/35]. Dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Shalat adalah media penting untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, lebih-lebih saat sujud, ia akan merasa semakin dekat dengan Allah Ta’ala. Allah-lah tempat hamba mengadu, memohon pertolongan dan hati seorang mukmin akan tenteram ketika shalat. Oleh karena itu, kita diperintahkan Allah Ta’ala untuk memperbanyak doa dan permohonan kepada-Nya dengan shalat ketika jiwa kita diperintahkan Allah Ta’ala untuk memperbanyak doa dan permohonan kepada-Nya dengan shalat ketika jiwa kita galau, cemas, merasa gundah, dan mengalami berbagai kesulitan hidup yang menghimpit. Beliau juga berkata kepada sahabat Bilal radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Bilal, kumandangkan iqamah shalat, buatlah kami tenang dengannya.” (Dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7892)

            Gerakan PTSB ini dapat memberikan bimbingan serta praktek sholat agar kita dapat lebih memahami, mengingat lebih kuat, memantapkan keyakinan akan keagungan Allah, lebih percaya diri, dan selalu optimis dalam menyelesaikan semua masalah hidup menuju hidup yang berkah dan bahagia. Wajah penuh bahagia adalah salah satu cermin syukur kepada Allah. Gerakan PTSB juga mengajarkan kita bagaimana memahami fungsi dari setiap gerakan yang ada dalam sholat dan apa yang harus kita lakukan dalam setiap gerakan sholat tersebut, antara lain:
1.  Takbiratul Ikhram (berdiri) yang memiliki kata kunci SUBHAN (Syukur, Bimbingan, Ketahanan iman). Takbiratul Ikhram menunjukan dari awal mula aktifitas kita diwaktu pagi hari.
2.  Rukuk yang memiliki kata kunci TURUT (Tunduk dan Menurut). Rukuk menunjukan agar kita selalu menjadi seorang hamba yang ta’at serta tawadhuk. Segala sesuatu hanyalah milik dan dari Allah maka simpan  baik-baik sombong mu.
3.  I’tidal (berdiri setelah rukuk) yang memiliki kata kunci HADIR (Hak pujian dan Takdir). I’tidal mengartikan bahwa yang mempunyai hak atas pujian hanyala Allah yang maha Agung dan yang menetapkan takdir setiap makhluk hanyalah Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui takdirnya kecuali Allah. Takdir adalah rahasia Allah dari pengetahuan semua makhluknya.
4. Sujud yang memiliki kata kunci MASJID (Maaf, Sinar Jiwa dan Raga). Sujud ialah salah satu gerakan sholat yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada Allah, karena pada saat sujud kita sedang berkomunkasi langsung dengan Allah. Sujud merupakan bentuk rasa maaf atau memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat. Kita akan menyadari dengan sendirinya.
5. Tasyahud awal (duduk diantara dua sujud) yang memiliki kata kunci AKSI (Ampunan, Kasih sayang, Sejahtera dan memperkuat Iman). Do’a dalam duduk diantara dua sujud sangat mencakup atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.
6. Tasyahud akhir (duduk diakhir sholat) yang memiliki kata kunci SOSIAL (Sholawat, Persaksian dan Tawakkal). Tasyahud akhir menunjukan akan kesaksian kita atas utusan Allah yang mulia yakni nabi Muhammad saw. serta rasa pasrah kita akan semua do’a dan usaha yang telah kita lakukan selama ini.
Gerakan PTSB sangat membantu dan menyadarkan akan sholat yang selama ini mungkin masih saya sepelehkan, dan mengerjakan sholat tidak dengan tumakninah terburu-buruh bahkan tidak khusyu’ sama sekali, dan di PTSB ini banyak sekali merubah saya untuk gerakan-gerakan sholat yang tumakninah dan khusyu’ dan membuat diri saya percaya yang sebelum mendalami PTSB ini sholat membuat hati tenang dan sekarang saya bisa buktikan ucapan itu.
 Dapat disimpulkan jika ingin hidup bahagia jangan pernah menyepelekan waktu sholat. Jika telah mendengar panggilan adzan maka segeralah untuk bersiap dan melaksanakannya.  Semua tingkah laku atau prilaku kita, baik buruknya kita dapat dilihat dari sholat nya. Ketika kita ingin mengubah keburukan yang ada dalam diri maka yang terlebih dahulu yang diubah adalah sholat nya. Sholat merupakan kunci dari segala hal. Mulai dari kesuksesan kita di dunia hingga di akhirat nanti. Adapun kehkusyu’an kita dalam sholat dapat ditemui saat kita benar-benar faham dengan bacaan yang terkandung dalam sholat. Segala sesuatu itu ada ilmu nya, melakukan suatu hal tanpa didasari dengan ilmu akan menjadi sia-sia. Sama halnya dengan sholat jika kita melakukan nya tanpa mengetahui serta memahami nya maka akan sia-sia.
  Masalah hidup itu realita nya berat, akan tetapi jika kita memiliki mindset bahwa kita yakin bisa menyelesaikan nya dengan mudah insyaAllah masalah tersebut akan sangat mudah dilalui. Berbeda dengan seseorang yang memiliki mindset bahwa masalah ku sulit, maka masalah tersebut akan sulit ia lalui. Pemikiran manusia sama hal nya seperti perkataan yang tidak diucapkan dan perkataan itu sama halnya dengan do’a. Oleh karena itu ubahlah mindset anda menjadi lebih positif Penjelasan diatas menerangkan, agar kita selalu mengingat Allah dimana dan kapanpun. Artinya dengan mengingat Allah kita akan mudah melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kita dan menjauhi larangannya. Juga menerangkan bagaimana menghadapi suatu masalah yang benar. Hal ini dapat disimpulkan dalam gerakan sholat lima waktu. Sholat adalah salah satu cara yang ampuh dalam menghadapi masalah hidup. Jika sholat kita sudah baik maka segala yang ada di diri kita akan baik pula. Maka dengan sholat kita dapat memiliki keuntungan untuk lebih dekat dengan Allah dan mengingat Allah. Gerakan dalam sholat memiliki arti dan fungsi tersendiri. Menurut ilmu kedokteran gerakan sholat sangat membantu kinerja anggota tubuh bagian dalam, salah satunya gerakan sujud melancarkan peredaran darah jantung. Sedangkan menurut ajaran agama Islam sholat memiliki fungsi tertinggi dalam kehidupan. Contohnya, dengan melakukan sholat kita diberi ketenangan, ketentraman, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan, juga dapat mendekatkan kita dengan Allah.
Sesuatu yang asalnya berat seperti batu akan menjadi emas dengan kita merubah mindset agar menuju kebahagiaan. Kematian yang ditakuti secara berlebihan. Ini juga merupakan sumber kecemasan. Melalui rukuk dengan posisi kepala yang diserahkan kepada Allah, Anda diingatkan untuk menyerahkan hidup-mati kepada Allah SWT, sebab kematian bukanlah pilihan, melainkan kepastian. Dengan menghapus ketakutan itu, Anda telah menutup pintu-pintu stres.  Melalui rukuk pula, Anda disemangati untuk rendah hati dan hormat kepada siapapun. Sikap hormat dan menghargai orang dapat mengantarkan Anda hidup lebih bahagia, sebab sikap itu mengundang simpati banyak orang untuk bekerjasama dalam banyak hal, termasuk dalam berbisnis untuk menambah penghasilan Anda. Pujian dan apresiasi orang yang diharap-harap atas apa yang Anda lakukan. Ketika Anda mengucapkan rabbana walakal hamdu pada waktu bangkit dari rukuk, sebenarnya Anda sedang bersumpah tidak mengharap balas budi, pujian, apresiasi dan terima kasih dari siapapun selain Allah, sebab Dia-lah satu-satunya yang berhak dipuji. Mengharap pujian orang sama dengan merampas hak-hak Allah, sekaligus membuka sejuta pintu stres. Sebab, menurut Al Qur’an (QS. 34: 13), hanya sedikit orang yang memberi apresiasi karya orang. Semakin besar harapan seseorang akan apresiasi orang, semakin terbuka lebar pintu stres. Orang bahagia tidak akan mengemis apresiasi, tapi justru selalu memberi apresiasi sekecil apapun jasa orang. Curahan kesedihan hati yang belum tersalurkan kepada orang paling dipercaya. Oleh sebab itu, salah satu obat stres adalah mencurahkan masalah hidup sampai tuntas kepada orang yang dipercaya dan bersedia mendengarkannya, sekalipun orang itu tidak dapat memberikan solusi. Ketika bersujud minimal 30 detik dan Anda mencurahkan isi hati sepuas-pusanya, maka berkuranglah beban psikologis Anda, sebab semua curahan hati telah ditumpahkan kepada Allah SWT disertai keyakinan bahwa Allah akan mengambil alih semua masalah yang Anda hadapi. Dosa-dosa masa lalu. Melalui doa pada posisi duduk di antara dua sujud, Anda diyakinkan bahwa tidaklah mungkin, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun tidak mengampuni dan mengasihi orang yang shalat, dan merengek meminta belas kasih dan ampunan kepada-Nya. Pesimis dan minder. Lihatlah, betapa gelap dan ciut muka orang yang tidak percaya diri, pesimis dan putus asa. Itulah tanda orang yang “kafir” dan menderita (QS. 14:7 dan 12:87). Melalui syahadat pada posisi tasyahud, keimanan Anda dikuatkan sehingga lebih percaya diri dan optimis, bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diyakini sebagai sumber energi untuk mengarungi masa depan. Sekarang, lihatlah, betapa cerah dan ceria muka orang yang optimis.

Salam Hangat dari Penulis

Minggu, 06 Oktober 2019

Wahyu Pertama dan Terakhir yang diturunkan


WAHYU PERTAMA DAN TERAKHIR


 



Dosen pengampu: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten dosen: Ati' Nursyafa’ah, M.Kom.I

Oleh:
Muhammad Taqiyyudin Al Aqiil (B01219038)


PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2019




KATA PENGANTAR


Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarganya, dan para sahabat beliau.

Tujuan pembuatan malah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi al-Qur’an. Seperti diketahui Bersama, al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam tidak pernah habis dibicarakan dari berbagai segi. Karena itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang wahyu yang turun pertama dan terakhir beserta tempatnya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.ag selaku dosen mata kuliah Studi al-Qur’an, yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih juga saya ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu selama proses pembuatan makalah ini.

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Karena itu, saran dan kritik yang membangun senantiasa saya harapkan demi perbaikan makalah ini di masa mendatang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.



Surabaya, 29 Agustus 2019




Muhammad Taqiyyudin Al Aqiil



DAFTAR ISI



WAHYU PERTAMA DAN TERAKHIR
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PEMBAHASAN
A.  Wahyu pertama yang diturunkan
      1.  Pendapat yang paling sahih ialah al-Alaq ayat 1-5
      2.  Pendapat kedua yakni al-Muddatstsir ayat 1-5
      3.  Pendapat ketiga yakni al-Fatihah
      4.  Pendapat ke empat yakni Bismillahhirrohmanirrohim
B.  Wahyu terakhir yang diturunkan.
      1.  Pendapat yang pertama al-Baqarah ayat 278
      2.  Pendapat yang kedua al-Baqarah ayat 281
      3.  Pendapat yang ketiga al-Baqarah ayat 282
      4   Pendapat yang keempat an-Nisa ayat 176
      5.  Pendapat yang kelima at-Taubah ayat 128
      6.  Pendapat yang keenam al-Maidah ayat 3
BAB II KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PEMBAHASAN


Ungkapan bahwa Rasulullah . Menerima al-Qur’an yang diturunkan kepadanya itu mengesankan suatu kekuatan yang dipegang seseorang dalam menggambarkan segala yang turun dari tempat  kedudukan al-Qur’an dan agungnya ajaran-ajarannya yang dapat mengubah perjalanan hidup umat manusia.
Dalam hal yang pertama kali diturunkan dan yang terakhir kali, para ulama mempunyai banyak pendapat, yang akan kami ringkaskan dan pertimbangkan di dalam pembahasan berikut ini

A.  Wahyu pertama yang diturunkan

1.      Pendapat yang paling sahih ialah al-Alaq ayat 1-5


Permulaan ayat al-Qur’an yang diturunkan ialah beberapa ayat pada permulaan surat al-Alaq (Iqra’ bismi Rabbika). Pada tanggal 8 bulan Rabi’ul awal sewaktu sedang berkhalwat di dalam gua Hira’.


ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ  ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ  ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ  ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ  ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ  ٥

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq[96] : 01 - 05).
Pendapat ini didasarkan pada suatu hadist yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadist dan yang lain, dari Aisyah Ummul Mukmin, yang mengatakan.
“Sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah  adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Dia melihat dalam mimpi itu datangnya bagaikan terangnya pagi hari. Kemudian dia suka menyendiri. Dia pergi ke gua Hira untuk beribadah beberapa malam. Untuk itu ia membawa bekal. Kemudian ia pulang kepada Khadija ra, maka Khadijah pun membekalinya seperti bekal terdahulu. Di gua Hira dia dikejutkan oleh suatu kebenaran. Seorang malaikat datang kepadanya dan mengatakan: ‘Bacalah!’ Rasulullah menceritakan, maka aku pun menjawab: ‘Aku tidak pandai membaca.’ Malaikat tersebut kemudian memelukku sehingga aku merasa amat payah. Lalu aku dilepaskan, dan dia berkata lagi: ‘Bacalah!’ Maka aku pun menjawab: ‘Aku tidak pandai membaca.’ Lalu dia merangkulku yang kedua kali sampai aku kepayahan. Kemudian dia lepaskan lagi dan dia berkata: ‘Bacalah!’ Aku menjawab: ‘Aku tidak pandai membaca.’ Maka dia merangkulku yang ketiga kalinya sehingga aku kepayahan, kemudian dia berkata: ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…’ sampai dengan ‘.. apayang tidak diketahuinya.” (Hadist)
Hadist diatas menunjukkan bahwa ayat yang pertama kali turun adalah surat al-Alaq ayat 1-5. Pada saat yang bersamaan turunnya ayat tersebut menetapkan bahwa Muhammad sebagai Nabi. Menjadi seorang nabi berarti jika mendapat wahyu yang telah berikan Allah SWT untuk  diamalkan bagi diri sendiri dan tidak memiliki kewajiban memberikan.

2.      Pendapat kedua yakni al-Muddatstsir ayat 1-5

Dikatakan pula, bahwa yang pertama kali turun adalah al-Muddatstsir. Pada hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan. Yang dimana pada malam tersebut sangat dimuliyakan.


يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ  ١ قُمۡ فَأَنذِرۡ  ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ  ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ  ٤ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ  ٥
“Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan!. Dan Tuhanmu agungkanlah!. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.”(QS. Al-Muddatstsir[74]: 1-5)


Ini didasarkan hadist yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadist yakni Imam Bukhari dan Muslim.

“Saya bertanya kepada Jabir bin Abdillah ra: Apakah ayat yang pertama kali diturunkan? Ia menjawab: Surat yang pertama kali diturunkan adalah “Yaa ayyuhal Muddatstsir.” Saya berkata: Bukankah ayat yang pertama kali diturunkan adalah surat al-Alaq “iqra’ bismirabbik”? Lalu Jabir ra menjawab: Kalau kamu tidak percaya, saya akan memberitahumu sebuah hadits dimana beliau bersabda: “Saya dulu sering tinggal di dalam gua Hira’. Setelah saya telah tidak lagi tinggal disana, saya pun menuruni lembah yang ada di dekat sana. Saya melihat ke kanan, ke kiri, ke depan, dan ke belakang. Setelah itu saya melihat ke langit, rupanya di sana ada Jibril. Saya pun langsung ketakutan dan gemetaran. Lalu saya mendatangi Khadijah ra, Saya menyuruhnya untuk menyelimuti saya. Maka Allah SWT menurunkan surat ini.
Mengenai hadist Jabir ini, dapatlah dijelaskan bahwa pertanyaan itu mengenai surah yang diturunkan secara penuh. Jabir menjelaskan bahwa surah al-Muddatstsir lah yang turun secara penuh sebelum surah al-Alaq selesai diturunkan, karena yang turun pertama sekali dari surah al-Alaq itu hanyalah permulaan saja. Hal yang demikian ini juga diperkuat oleh hadist Abu Salamah dari Jabir yang terdapat dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Jabir berkata : “Aku telah mendengar Rasulullah ketika ia berbicara mengenai terputusnya wahyu, maka katanya dalam pembicaraan itu: Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu aku angkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat malaikat yang mendatangi aku di gua Hira itu duduk di atas kursi antara langit dan bumi, lalu aku pulang dan aku katakan : Selimuti aku! Mereka pun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan: Ya ayyuhal Muddatstsir.”
Hadist ini menunjukkan bahwa kisah tersebut lebih kemudian dari kisah gua Hira, atau Al-Muddatstsir itu adalah surah pertama yang diturunkan setelah terhentinya wahyu. Jabir telah mengeluarkan yang pertama kali turun secara mutlak ialah iqra’  dan surah yang pertama diturunkan secara lengkap dan pertama diturunkan setelah terhentinya wahyu ialah Ya ayyuhal Muddatstsir dan untuk kenabiannya adalah iqra’.

3.      Pendapat ketiga yakni al-Fatihah

Pendapat ini mengatakan bahwa yang pertama kali turun kepada Rasulullah  adalah surat al-Fatihah. Az-Zamakhsyari berkata dalam Al-Kasysyaf: Abdullah bin Abbas ra dan Mujahid, keduanya telah menegaskan bahwa surat yang pertama kali turun dalam al-Qur’an adalah surat al-Alaq, tetapi kebanyakan tafsir menyatakan bahwa yang pertama kali turun dalam al-Qur’an adalah surat al-Fatihah.
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  ٣ مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ  ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ  ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ  ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ  ٧

 “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al- Fatihah[1]: 1-7).
Dasar dalil yang dipergunakan bahwa surat yang pertama kali turun al-Fatihah adalah hadits riwayat al-Baihaqi dalam ad-Dalail dan juga al-Wahidy dari Abu Maisarah Amru bin Syurahbil bahwa Rasulullah  berkata kepada Khadijah ra: “Jika saya sedang sendirian, saya sering mendengar suara yang memanggil-manggil, sampai saya merasa sangat takut, jangan-jangan ini adalah suatu perintah”. Khadijah ra menjawab: Tidak mungkin, Allah SWT tidak akan berlaku seperti itu kepada  engkau, karena engkau adalah orang yang selalu menyampaikan amanah, menyambung tali  silahturahmi, dan selalu berkata jujur. Ketika Abu Bakar ra mendatangi Rasulullah  Khadijah ra pun menceritakan hal itu kepadanya, Ia berkata kepada Abu Bakar ra: Pergilah Bersama Muhammad  menuju rumah Waraqah. Kemudian keduanya pergi ke rumah Waraqah dan menceritakan hal-hal yang terjadi pada diri Nabi Muhammad . Nabi  berkata kepada Waraqah: “ Setiap saya menyendiri saya selalu mendengar suara yang memanggil-manggil saya, ia memanggilku ‘wahai Muhammad! Wahai Muhammad!, kemudian saya langsung lari terbirit-birit dan bersembunyi setiap mendengar suara tadi”. Waraqah berkata: Jika kau mendenga suara itu lagi maka tetaplah di tempatmu dan jangan lari terbirit-birit, dan turunlah surat al-Fatihah.

4.      Pendapat ke empat yakni Bismillahhirrohmanirrohim


Mengapa Bissmillahirrahmanirrahim? Karena basmalah itu turun mendahului setiap surah. Dalil-dalil kedua pendapat di atas hadist-hadist mursal. Hadist mursal adalah perkataan yang diucapkan oleh tabi’in (mereka yang tidak pernah bertemu Rasulullah ) secara langsung atau terus kepada Rasulullah  dengan tidak melalui perantaraan sahabat. Pendapat pertama yang didukung oleh hadist Aisyah itulah pendapat yang kuat dan masyhur.
Az-Zarkasyi menyebutkan di dalam kitabnya al-Burhan, hadist Aisyah yang menegaskan bahwa yang pertama kali turun adalah iqra’ bismi rabbikal lazi khalaq dan hadist jabir yang menegaskan bahwa yang pertama kali turun adalah Ya ayyuhal muddatstsir qum fa anzir. Kemudian dia berkata : “Sebagian ulama menyatukan keduanya yaitu, bahwa Jabir mendengar Rasulullah  menyebutkan kisah permulaan wahyu dan dia mendengar bagian akhirnya, sedang  bagian pertamanya dia tidak mendengar. Maka dia (Jabir). Menyangka bahwa surah yang didengarnya itu adalah yang pertama kali diturunkan, padahal bukan mememang surah Al-Muddatstsir itu adalah surah pertama yang diturunkan setelah surah al-Alaq dan setelah terhentinya wahyu. Hal itu juga termuat dalam Sahih Bukhari dan Muslim dari Jabir, bahwa Rasulullah SAW dikala itu sedang membicarakan masalah terhentinya wahyu. Didalam hadist itu dia berkata: “ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu ku angkat kepalaku, tiba-tiba yang datang kepadaku malaikat yang ku lihat ketika aku di gua hirak duduk diatas kursi yang terletak diantara langit dan bumi, sehingga akupun merasa ketakutan sekali. Kemudian aku pulang dan berkata: “selimuti aku, selimuti aku“. Lalu Allah menurunkan: “wahai orang yang berselimut, bangkitlah, lalu berilah peringatan“
Dalam hadist ini ia memberitahukan tentang malaikat yang datang kepadanya di gua Hira’ sebelum saat itu. Di dalam hadist Aisyah ia memberitahukan bahwa turunnya iqra’ itulah wahyu pertama yang turun. Kemudian setelah itu wahyu terhenti. Sedang dalam hadist Jabir ia memberitahukan bahwa wahyu berlangsung kembali setelah turunnya Ya ayyuhal muddatstsir.
Dengan demikian dapatlah diketahui Iqra’ adalah yang pertama sekali diturunkan secara mutlak, dan bahwa al-Muddatstsir diturunkan sesudah Iqra’.
Demikian juga Ibnu Hibban mengatakan dalam Sahih-nya:                   
“Di antara kedua hadist itu tidak ada pertentangan. Sebab yang pertama kali diturunkan adalah Iqra’ bismi rabbikal lazi khalaq di gua Hira’. Ketika kembali kepada Khadijah dan Khadijah menyiramkan air dingin kepadanya, Allah menurunkan kepadanya di rumah Khadijah ini : Ya ayyuhal muddatstsir. Maka jelaslah bahwa ketika turun kepada beliau iqra’, ia pulang lalu berselimut; kemudian Allah menurunkan Ya ayyuhal muddatstsir.”
Juga ada dikatakan bahwa yang pertama kali turun ialah surah Al-Fatihah. Hadist yang menunkjukkan hal ini diriwayatkan melalui Abu Ishaq dari Abu Maisarah; dia berkata: “Adalah Rasulullah SAW apabila mendengar suara, beliau segera berlari. Beliau pun menyebutkan turunnya malaikat kepadanya dan perkatannya, “Katakanlah: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin….. dan seterusnya.”
Al-Qadhi Abu Bakar dalam kitabnya al-Intishar mengatakan, bahwa hadist ini munqathi’. Maka tetap kuatlah pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali turun ialah iqra’ bismi rabbik, dan sesudah itu wahyu ini terputus selama tiga tahun. Al-Qur’an itu turun pada nabi berangsur-angsur. Sudah itu turun pula ayat yang berbunyi Ya ayyuhal muddatstsir. dan sesudah itu pendapat yang menyatakan bahwa yang pertama kali turun itu adalah Ya ayyuhal muddatstsir. Cara menyatukan pendapat-pendapat diatas bahwa ayat yang pertama kali turun itu adalah Iqra’ bismi rabbik, dan ayat mengenai tabligh (untuk menyampaikan) yang pertama kali turun ialah Ya ayyuhal muddatstsir, sedang surah yang pertama kali turun ialah Al- fatihah. Hal yang demikian ini seperti apa yang termuat di dalam hadist:
“Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba ialah Salat. Dan “Yang pertama kali diputuskan mengenai seorang Hamba adalah urusan darah”
Penyatuan kedua hadist itu ialah : “Yang pertama kali seorang hamba diadili dalam hal kezaliman yang terjadi sesama hamba adalah urusan darah; sedang yang pertama kali dihisab dari seorang hamba dalam hal kewajiban-kewajiban badaniah adalah shalat.”
Juga dikatakan bahwa yang pertama kali turun mengenai kerasulan adalah Ya ayyuhal muddatstsir, dan yang pertamankali turun mengenai kenabian adalah iqra’ bismi rabbik. Hal itu disebabkan para ulama mengatakan bahwa firman Allah iqra’;bismi rabbik itu menunjukkan kenabian Muhammad SAW sebab kenabian tiu adalah wahyu kepada seseorang melalui perantaraan malaikat denga  penugasan khusus. Sedang firman Allah firman Allah Ya ayyuhal muddatstsir itu menunjukkan kerasulannya, sebah kerasulan itu adalah wahyu kepada seseorang denga  perantaraan malaikat dengan penugasan umum.
Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa “iqra” adalah wahyu yang pertama sekali diturunkan secara mutlah, dan bahwa “muddatstsir” diturunkan sesudah iqra’. Hal ini sesuai dengan anjuran Al-Quran sendiri. Ayat yang mula mula turun ialah yang berhubungan dengan Ilmu pengetahuan. Adapun ilmu-ilmu yang berkembang pada masa keemas an islam paling erat hubungannya ayat pertana turun dengan Pendidikan surat Al Alaq ayat 1, 4 dan 5 adalah : Perintah untuk membaca. Menulis dan mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya, karena membaca dan menulis merupakan Sumber ilmu pengetahuan.

B.  Wahyu terakhir yang diturunkan.

Tidak seperti ayat yang pertama turun, ayat yang terakhir turun banyak pendapat yang berbeda-beda. Rasulullah  bias bercerita tentang awal permulaan wahyu yang turun paling terakhir, karena turunnya wahyu merupakan kehendak Alllah SWT yang tidak diketahui Rasulullah . Untuk itu, wahyu yang turun paling akhir hanya dari pengakuan beberapa sahabat yang berbeda pengalaman saat Bersama Rasulullah .

1.      Pendapat yang pertama al-Baqarah ayat 278


Dikatakan bahwa ayat terakhir yang diturunkan itu adalah ayat mengenai riba. Ini didasarkan pada hadist yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Ibn Abbas, yang mengatakan:
“Ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat mengenai riba.” Yang dimaksud ialah firman Allah :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ  ٢٧٨
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”(QS. Al-Baqarah[2]:278)

2.      Pendapat yang kedua al-Baqarah ayat 281

وَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ  ٢٨١
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”(QS. al-Baqarah[2]:281)
Ayat ini mengingatkan bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah SWT. “Pesan ini lebih layak sebagai pamungkas,” tulis Abu Syahbah (1992:109). Selain itu, sebagaimana pendapat pertama di atas, ayat ini juga didukung oleh banyak ulama. Ayat ini turun pada hari Sabtu dan jangka waktu antara turunnya ayat ini turun pada hari Sabtu dan jangka waktu antara turunnya ayat ini dan wafatnya Rasulullah  adalah 9 hari (Ibnu Katsir, 1997: I: 367). Sebelum wafat, Nabi SAW mengalami sakit keras. Karenanya, ayat ini turun di Madinah saat Rasulullah  terbaring sakit.

Selain dasar-dasar yang kuat, jarak dengan wafatnya Rasullah  tidak bisa diabaikan dalam menentukan ayat yang turun paling akhir. Turunnya wahyu mengiringi hidup Rasulullah . Artinya, selama Rasulullah  belum wafat, masih ada kemungkinan wahyu berakhir, sebagaimana Rasulullah  tidak mengetahui kapan wafatnya. Tidak jarang Rasulullah  membacakan wahyu kepada para sahabat yang berbeda, sehingga sahabat yang satu lebih mengetahui seluk beluk suatu ayat tertentu disbanding sahabat yang lain. Sahabat yang mengetahui persis saat Rasulullah  menerima suatu ayat memiliki pengetahuan yang lebih kuat dibanding sahabat lain yang tidak mengetahui secara langsung proses turunnya suatu ayat kepada nabi. Demikian ini dapat diketahui melalui penjelasan sebab-sebab turunnya suatu ayat. Dengan demikian, masing-masing sahabat bias mengklaim ayat yang diketahuinya sebagai ayat yang turun paling akhir.

3.      Pendapat yang ketiga al-Baqarah ayat 282

Juga dikatakan bahwa yang terakhir kali turun itu ayat mengenai utang. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyab “Telah sampai kepadanya bahwa ayat al-Qur’an yang paling muda di ‘Arsy ialah ayat mengenai utang.”
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيۡنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى فَٱكۡتُبُوهُۚ وَلۡيَكۡتُب بَّيۡنَكُمۡ كَاتِبُۢ بِٱلۡعَدۡلِۚ وَلَا يَأۡبَ كَاتِبٌ أَن يَكۡتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ ٱللَّهُۚ فَلۡيَكۡتُبۡ وَلۡيُمۡلِلِ ٱلَّذِي عَلَيۡهِ ٱلۡحَقُّ وَلۡيَتَّقِ ٱللَّهَ رَبَّهُۥ وَلَا يَبۡخَسۡ مِنۡهُ شَيۡٔٗاۚ فَإِن كَانَ ٱلَّذِي عَلَيۡهِ ٱلۡحَقُّ سَفِيهًا أَوۡ ضَعِيفًا أَوۡ لَا يَسۡتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلۡيُمۡلِلۡ وَلِيُّهُۥ بِٱلۡعَدۡلِۚ وَٱسۡتَشۡهِدُواْ شَهِيدَيۡنِ مِن رِّجَالِكُمۡۖ فَإِن لَّمۡ يَكُونَا رَجُلَيۡنِ فَرَجُلٞ وَٱمۡرَأَتَانِ مِمَّن تَرۡضَوۡنَ مِنَ ٱلشُّهَدَآءِ أَن تَضِلَّ إِحۡدَىٰهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحۡدَىٰهُمَا ٱلۡأُخۡرَىٰۚ وَلَا يَأۡبَ ٱلشُّهَدَآءُ إِذَا مَا دُعُواْۚ وَلَا تَسَۡٔمُوٓاْ أَن تَكۡتُبُوهُ صَغِيرًا أَوۡ كَبِيرًا إِلَىٰٓ أَجَلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِ وَأَقۡوَمُ لِلشَّهَٰدَةِ وَأَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَرۡتَابُوٓاْ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً حَاضِرَةٗ تُدِيرُونَهَا بَيۡنَكُمۡ فَلَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَلَّا تَكۡتُبُوهَاۗ وَأَشۡهِدُوٓاْ إِذَا تَبَايَعۡتُمۡۚ وَلَا يُضَآرَّ كَاتِبٞ وَلَا شَهِيدٞۚ وَإِن تَفۡعَلُواْ فَإِنَّهُۥ فُسُوقُۢ بِكُمۡۗ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ  ٢٨٢
 Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah[2]: 282)

Ketiga riwayat itu dapat dipadukan, yaitu bahwa ketiga ayat tersebut di atas diturunkan sekaligus seperti tertib urutannya di dalam mushaf. Ayat mengenai riba, ayat Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah…. Kemudian ayat mengenai utang, karena ayat- ayat itu masih satu kisah.

4.      Pendapat yang keempat an-Nisa ayat 176

Dikatakan pula bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah ayat mengenai kalalah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Barra’ bin Azib; dia berkata: “Ayat yang terakhir kali turun adalah:
يَسۡتَفۡتُونَكَ قُلِ ٱللَّهُ يُفۡتِيكُمۡ فِي ٱلۡكَلَٰلَةِۚ إِنِ ٱمۡرُؤٌاْ هَلَكَ لَيۡسَ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَهُۥٓ أُخۡتٞ فَلَهَا نِصۡفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ إِن لَّمۡ يَكُن لَّهَا وَلَدٞۚ فَإِن كَانَتَا ٱثۡنَتَيۡنِ فَلَهُمَا ٱلثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَۚ وَإِن كَانُوٓاْ إِخۡوَةٗ رِّجَالٗا وَنِسَآءٗ فَلِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۗ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ أَن تَضِلُّواْۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ  
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. An-Nisa[4]: 176)
Ayat yang turun terakhir menurut hadits Barra’ ini adalah berhubungan dengan masalah warisan.

5.      Pendapat yang kelima at-Taubah ayat 128

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ  ١٢٨
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”(QS. At-Taubah[9]: 128)
Dalam al-Mustadrak disebutkan, dari Ubai bin Ka’b yang mengatakan: “Ayat terakhir kali diturunkan: Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri…”. Mungkin yang dimaksud dalam pendapat ini adalah ayat terakhir yang diturunkan dari surah at-Taubah. Dan mungkin saja surah ini adalah surah yang terakhir kali diturunkan.

6.      Pendapat yang keenam al-Maidah ayat 3


Pendapat lain pula mengatakan bahwasanya ayat al-Qur’an yang terakhir diturunkan ialah firman Allah SWT. Dalam surah al-Maidah ayat 3 :
…..ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ …….٣
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
Menurut Ash-Shabuni pendapat ini merupakan pendapat yang tidak sahih (benar), karena ayat tersebut diturunkan kepada Rasulullah . Pada waktu beliau wukuf di Arafah, yang setelah itu beliau masih sempat hidup selama 81 hari, dan sebelum beliau wafat turunlah sebuah ayat dari surah al-Baqarah seperti pendapat yang kedua di atas.




BAB II

KESIMPULAN

Demikianlah makalah ini dibuat. Beberapa hal yang menjadi catatan penting dalam makalah ini adalah yang turun pertama kali menurut pendapat ulama : al-Alaq ayat 1-5, al-Muddatstsir ayat 1-5, al-Fatihah, Bissmillahirrahmanirrahim. Dan menurut para ahli hadits yang paling sahih yakni al-Alaq ayat 1-5.
Dan juga menurut pendapat ulama mengenai wahyu yang terakhir turun adalah: al-Baqarah ayat 278, 281, 282 dan an- Nisa ayat 176, at-Taubah 128, al-maidah ayat 3. Menurut Al-Qadhi Abu Bakar Al- Baqilani ketika mengomentari berbagai riwayat mengenai ayat yang terakhir kali diturunkan menegaskan bahwa tidak satupun dari pendapat-pendapat ini yang disandarkan kepada Rasulullah , masing-masing boleh jadi berkata sesuai dengan hasil ijtihadnya atau dugaan saja.




 DAFTAR PUSTAKA

Al Abyadi, Ibrahim. Sejarah Al Qur’an. Jakarta: Rineka Cipta. 1992
Al-Qattan, Manna Khalil, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2016
Anwar, Abu. Ulumul Quran Sebuah pengantar. Jakarta: Amzah. 2017
As Suyuthi, Imam Jalaluddin. Samudera Ulumul  Qur’an. Surabaya: Bina Ilmu Surabaya. 2006
Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu Al-Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia. 1998.
Aziz, Moh. Ali. Mengenal Tuntas Al-Qur’an. Surabaya: Imtiyaz. 2018
Dh, Ahmad Zuhdi, dkk. Studi Al-Qur’an. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press. 2017.
Muhammad Yasir, Ade Jamaruddin. Studi Al-Quran. Riau: Asa Riau. 2016
Musyafa’ah, Sauqiyah, dkk. Studi Al-Qur’an. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press. 2013.
Rosidin, Mukarom Faisal, dkk. Buku Siswa Al-Qur’an Hadis Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 untuk MA Kelas X. Jakarta: Kementerian Agama. 2014.
Sumuranje, L. Nihwan. Al-Qur’an Bertutur. Solo: Tiga Serangkai. 2019.
Syafaq, Hammis, dkk. Pengantar Studi Islam. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press. 2017.
Tim Penyusun MKD. Studi Al-Qur’an. Surabaya: UINSA Press. 2013